BANGGAI TERKINI, Banggai – Pemerintah Kabupaten Banggai Laut melalui Dinas Sosial kembali menyalurkan bantuan asistensi rehabilitasi sosial (Atensi) kepada masyarakat yang membutuhkan. Bantuan senilai total Rp575.871.500 itu diberikan kepada 183 penerima manfaat.
Penyaluran bantuan yang bersumber dari sinergi bersama Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI), Sentra Nipotowe Palu dan Pemkab Banggai Laut dilakukan di Pendopo Rumah Jabatan Bupati Banggai Laut, Selasa (18/8/2026).
Bupati Banggai Laut Sofyan Kaepa menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah pusat yang terus memperkuat program perlindungan dan rehabilitasi sosial di daerah.


Menurutnya bantuan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan kebutuhan masyarakat, terutama kelompok rentan, dapat ditangani secara tepat. “Ini merupakan ekosistem yang berputar, tugas kami hanya melayani masyarakat,” kata Bupati Sofyan.
Ia menjelaskan, bantuan tersebut berawal dari usulan Dinas Sosial Banggai Laut yang dihimpun dari data pemerintah desa. Data calon penerima kemudian diverifikasi dan diusulkan kepada Kementerian Sosial RI. “Datanya berasal dari pemerintah desa, kemudian melalui Dinas Sosial. Setelah itu Bupati menandatangani untuk diusulkan ke Kementerian Sosial,” ujarnya.

Orang nomor satu di Banggai Laut itu juga menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Sosial RI dan Sentra Nipotowe Palu atas komunikasi serta kerja sama yang terjalin dengan Pemkab Banggai Laut. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah sangat penting agar program sosial dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Sosial Banggai Laut Amiruddin Lakuba mengatakan, penerima bantuan terbagi dalam sejumlah klaster, yakni penyandang disabilitas, lanjut usia (lansia), anak, serta penerima alat bantu.

Data penerima berasal dari sejumlah desa dengan kategori desil 1 hingga 5 pada DTSEN. Sebelum bantuan disalurkan, Dinas Sosial terlebih dahulu melakukan asesmen untuk memastikan jenis bantuan sesuai dengan kebutuhan masing-masing penerima.
“Kenapa kita harus asesmen? Karena kita tidak bisa hanya memborong sembako atau alat bantu tanpa tahu persis apa yang mereka butuhkan. Kalau asesmennya salah, bantuan yang diberikan pun akan salah sasaran,” kata Amiruddin kepada wartawan disela-sela penyaluran.
Menurut dia, proses asesmen juga diperlukan untuk memperbarui data penerima. Hal itu penting mengingat kondisi penerima dapat berubah setelah data awal dihimpun.

“Semua harus kita asesmen. Misalnya, ada sebagian yang sudah mendapat bantuan sesuai data terakhir, dan ada juga yang sudah meninggal dunia,” katanya.
Amirudin merinci, bantuan yang disalurkan mencakup alat bantu bagi penyandang disabilitas, bantuan usaha seperti peralatan pertukangan dan katering, kulkas, sembako, perlengkapan dapur, hingga perlengkapan kamar.
Bantuan perlengkapan kamar, kata dia, lebih banyak diperuntukkan bagi penerima lanjut usia. Selain itu, terdapat pula bantuan berupa perlengkapan sekolah bagi penerima yang membutuhkan.
Ia menegaskan, asesmen menjadi bagian penting dalam penyaluran bantuan agar bantuan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan penerima manfaat. “Sarana kamar ini lebih banyak untuk yang lansia. Terus ada bantuan perlengkapan sekolah,” pungkasnya.
Penulis : Nomo





















