Menu

Mode Gelap
Truk Bermuatan Material Kopdes Merah Putih, Terjungkit di Tanjakan Bebek Patukuki Berprestasi Nasional, Asyrafid Fachrezy Montilalu Siswa SMPN 1 Banggai Wakili Sulteng di Bintang Sobat SMP Kapolres Banggai Laut Resmi Dilantik Kapolda Sulteng Kantor Pertanahan Banggai Laut Resmi Luncurkan Layanan Pengukuran Terjadwal: Wujudkan Pelayanan Pasti dan Transparan Tampung Aspirasi Warga, Pemdes Bone Baru Gelar Musdes Rencana Penyusunan RKPDes TA 2027 Bapenda Banggai Laut dan PT PLN Luwuk Perkuat Sinergi Optimalisasi Penerimaan PBJT

Ekonomi

Kesepakatan Tarif AS Untungkan Indonesia, Ekonom Dorong Akselerasi Investasi dan Moneter

badge-check

Kesepakatan Tarif AS Untungkan Indonesia, Ekonom Dorong Akselerasi Investasi dan Moneter Perbesar

BANGGAI TERKINI, Jakarta – Dunia boleh saja sibuk dengan eskalasi perang dagang dan fragmentasi pasar global. Namun semalam, melalui platform media sosialnya Social Truth,  presiden AS, Donald Trump, mengumumkan bahwa Amerika Serikat telah mencapai kesepakatan dagang strategis dengan Indonesia.

Satu angka mencolok: tarif hanya 19 persen untuk produk Indonesia yang masuk ke AS, jauh lebih rendah dari rencana awal 32 persen, dan lebih kompetitif dibandingkan Vietnam (20–40 persen), Malaysia (25 persen), bahkan Thailand (36 persen).

Menurut Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, nilai sejati dari kesepakatan ini bukan sekadar tarif rendah, melainkan sinyal yang sangat penting secara geopolitik dan ekonomi.

“Yang penting bukan cuma 19 persen, tapi pernyataan eksplisit dari AS tentang posisi strategis Indonesia. Kita diakui karena punya rare earth minerals, tembaga, dan sumber daya strategis lain yang dunia butuhkan,” ujar Fakhrul, Rabu (16/7/2025).

Kesepakatan ini disertai komitmen pembelian 50 pesawat Boeing oleh Indonesia, serta kerja sama di sektor pertanian dan energi. Namun yang paling strategis adalah penyebutan langsung peran Indonesia dalam pasokan mineral kritis, kunci dari masa depan kendaraan listrik, energi bersih, dan teknologi tinggi.

Fakhrul menilai bahwa selisih tarif yang signifikan dengan negara-negara pesaing di Asia Tenggara dapat dimanfaatkan untuk menarik relokasi investasi industri:

“Potensi masuknya investasi sebesar USD 200–300 juta dalam 1–2 tahun ke depan bisa terwujud, terutama ke kawasan industri dan manufaktur ekspor,” kata Fakhrul. “Konsolidasi sudah cukup. Sekarang saatnya tancap gas.”

Di tengah prospek membaiknya hubungan dagang dan menguatnya kepercayaan global terhadap Indonesia, kebijakan dalam negeri juga harus adaptif. Salah satu sorotan utama Fakhrul adalah peran Bank Indonesia (BI) yang dinilainya perlu segera memangkas suku bunga acuan.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Bacaan Lainnya

Berprestasi Nasional, Asyrafid Fachrezy Montilalu Siswa SMPN 1 Banggai Wakili Sulteng di Bintang Sobat SMP

16 Juli 2026 - 10:40 WITA

Tampung Aspirasi Warga, Pemdes Bone Baru Gelar Musdes Rencana Penyusunan RKPDes TA 2027

14 Juli 2026 - 18:37 WITA

Bapenda Banggai Laut dan PT PLN Luwuk Perkuat Sinergi Optimalisasi Penerimaan PBJT

13 Juli 2026 - 14:10 WITA

Alhamdulillah, Pemdes Bone Baru Kembali Salurkan BLT DD Juni-Juli TA 2026

9 Juli 2026 - 14:19 WITA

Wamen ATR BPN: Kepala Daerah Berperan Strategis dalam Penyelesaian Persoalan Pertanahan dan Tata Ruang

9 Juli 2026 - 11:18 WITA

Kementerian ATR/BPN Hadirkan Pengukuran Terjadwal, Beri Kepastian Waktu Layanan untuk Masyarakat

9 Juli 2026 - 08:50 WITA

Rekomendasi Artikel di Nasional