Oleh : Nur Karimah, S.Ikom
MOMENTUM baru, Festival Malabot Tumbe yang dilaksanakan setahun sekali di Banggai Laut, memberikan warna baru, bagaimana tidak setelah waktu yang panjang posisi Tomundo yang dipegang oleh Plt. Irwan Zaman telah selesai dan kepemimpinan penuh kini dipegang oleh Tomundo sah yang baru.
Hal inilah yang menjadi kebanggaan serta kelegaan, Festival Malabot Tumbe menjadi pagelaran budaya bergengsi dan kebanggan orang banggai, tetapi dibalik kemegahan itu menyimpan banyak tanya yang belum ada jawabannya hingga saat ini.
Representasi dari festival Malabot Tumbe itu sendiri di bagian mananya?
Sebagai masyarakat banggai seharusnya kepekaan dan ketajaman pemikir menjadi tolok ukur, rasa bangga yang hadir hanya sebatas iming-iming belaka sehingga ketika Festival ini berakhir, selesailah sudah. Seolah pertanggung jawaban itu tidak ada (dalam bentuk aksi nyata bukan administrasi arsip). Tujuan sebenarnya dari Festival tersebut TIDAK ADA, kebudayaan yang kita banggakan, pamerkan hanyalah kebohongan.
In seharusnya menjadi perhatian lebih untuk kita semua, terutama pemangku adat, jajaran pemerintahan yang berkuasa di bumi Banggai Laut saat ini.
Jika festival ini hanya menjadi ajang pamer dan meningkatkan pariwisata maka itu hanya kesia-siaan.
Jika ditelusuri kembali beberapa tahun belakangan in Banggai laut sudah cukup terkenal melalui berbagai aset yang ada saat ini, baik itu melalui media lokal, nasional atau internasional. Lalu terletak dimanakah nilai-nilai, tujuan bahkan manfaat yang kita lakukan selama ini?
Bukti nyata yang kita butuhkan, tidak ada. Penulisan ulang sejarah seakan tidak ada dari daftar cita-cita pemerintah setempat, kebudayaan yang seharusnya ada hanyalah ajang setahun sekali, adat istiadat orang banggai hilang serta yang menjadi struggle saat ini adalah bahasa banggai. Hanya sebagian kecil lapisan masyarakat yang bisa membahasakannya pada kehidupan sehari-hari, bahasa yang menjadi pemersatu orang Banggai jaman dulu hilang dimakan ketamakan pemerintah yang hanya mementingkan birokrasi, politiknya kacau bahkan sakit.
Eksternal diperkuat, diperjuangkan, diusahakan namun internalnya rusak. Menyedihkan, menyayat hati, memberi luka yang akan menjadi luka turun temurun.
Jadi bagaimana seharusnya ini semua? PERUBAHAN.
Tidak perlu yang besar, perubahan ada bermula dari hal-hal kecil yang diusahakan. Pelibatan lapisan masyarakat menjadi langkah awal, memberi ruang serta dukungan pada anak muda-mudi yang ingin perubahan.














