Di sisi lain, perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok kembali memanas setelah USTR menaikkan tarif impor terhadap sejumlah komoditas strategis, termasuk kendaraan listrik dan bahan baku baterai. Konflik ekonomi-politik ini menambah ketidakpastian global, yang turut mempengaruhi perekonomian domestik.
“Perang dagang antar dua negara terbesar di dunia menjadi variabel risiko ketidakpastian yang dampaknya merembet ke seluruh dunia termasuk Indonesia,” papar Sri Mulyani.

Tahun 2024 juga dikenal sebagai Super Election Year, dengan lebih dari 70 negara, termasuk Indonesia, menggelar pemilu. Situasi ini memunculkan tekanan ganda terhadap stabilitas pasar dan investasi global.
Tekanan ekonomi juga datang dari perpanjangan dampak El Nino. Menurutnya, hal ini menyebabkan krisis pangan dan mendorong inflasi harga bahan makanan (volatile food) hingga 10,3% (year on year). Pemerintah merespons dengan menyalurkan beras SPHP melalui Bulog serta mempercepat impor dari Thailand, Vietnam, dan Pakistan.
“Dampak El Nino sangat dirasakan di dalam negeri, terutama pada sektor pangan,” ujar Sri Mulyani.
Adapun dari sisi fiskal, pemerintah mencatat realisasi belanja negara sebesar Rp 3.359,8 triliun, dengan pendapatan negara mencapai Rp 2.850,6 triliun, sehingga defisit berada pada kisaran 2,3% PDB, masih dalam batas aman sesuai target APBN 2024 sebesar 2,29%. (hal/aha)











