BANGGAI TERKINI, Jakarta – Pemerintah menargetkan penyiapan 500.000 calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) terampil hingga 2029. Melalui program yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja di negara tujuan.
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, mengatakan pemerintah daerah (Pemda) dan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kemampuan bahasa, keterampilan teknis, serta kesiapan mental untuk bersaing di pasar kerja internasional.
Hal tersebut disampaikannya dalam Sosialisasi Program Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri (P3KLN) dalam rangka Program Peningkatan Kapasitas Berbasis Kebutuhan Pasar Kerja Luar Negeri yang digelar secara daring, Selasa (22/9/2026).
Mukhtarudin mengatakan sosialisasi dilakukan untuk memperluas akses masyarakat terhadap informasi dan peluang kerja luar negeri yang aman serta sesuai dengan kebutuhan pasar.
“Ini merupakan bagian penting dari upaya kita untuk memperluas akses informasi dan peluang-peluang kerja luar negeri yang aman, berkualitas, dan sesuai dengan kebutuhan pasar kerja global,” ujarnya.
Menurutnya, besarnya jumlah penduduk usia produktif di Indonesia dapat menjadi peluang apabila diikuti peningkatan kualitas dan kompetensi SDM.
Di sisi lain, kebutuhan tenaga kerja di sejumlah negara dinilai membuka peluang bagi tenaga kerja Indonesia. Namun, peluang tersebut mensyaratkan kompetensi tertentu. “Dari sisi demand, kebutuhan tenaga kerja luar negeri sangat tinggi. Tetapi demand yang tinggi ini harus diikuti persyaratan kompetensi, paling minimal bahasa, kemudian keterampilan teknis yang tersertifikasi,” ujar Mukhtarudin.
Ia mengatakan masih terdapat kesenjangan antara kompetensi lulusan pendidikan di Indonesia dan kebutuhan pasar kerja internasional, baik pada lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) maupun perguruan tinggi.
Untuk memperkecil kesenjangan tersebut, pemerintah menjalankan program percepatan melalui SMK Go Global yang dalam naskah program disebut sebagai bagian dari Asta Mandala SMK Go Global.
Program tersebut menargetkan penyiapan 500.000 calon pekerja migran terampil hingga 2029, terdiri atas 300.000 lulusan SMK dan 200.000 masyarakat umum.
Target penyiapan dilakukan secara bertahap, yakni 40.000 orang pada 2026, 140.000 orang pada 2027, 180.000 orang pada 2028, dan 140.000 orang pada 2029.
Mukhtarudin menjelaskan program menggunakan pendekatan demand-driven atau berbasis permintaan. Kebutuhan tenaga kerja di negara tujuan dipetakan terlebih dahulu sebelum peserta mendapatkan pelatihan. “Paradigma berpikirnya kita balik. Sektornya ada dulu, negaranya ada dulu, demand-nya ada dulu, baru kita latih. Demand ini membutuhkan kompetensi seperti apa, baru kita latih seperti apa,” jelasnya.
Menurutnya, pola tersebut ditujukan agar peserta tidak hanya mengikuti pelatihan, tetapi memperoleh kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan penempatan. “Jadi, latih, kompeten, tempatkan. Bukan hanya dilatih kemudian tidak ada tindak lanjut,” tegas Mukhtarudin.
Bidang pekerjaan yang dipersiapkan antara lain caregiver, pengelasan (welder), perhotelan (hospitality), keperawatan, manufaktur, serta sektor lain sesuai kebutuhan pasar kerja internasional.
Menteri P2MI Mukhtarudin juga meminta pemerintah daerah memperkuat penyampaian informasi kepada masyarakat mengenai prosedur penempatan pekerja migran.
Ia mengingatkan calon pekerja migran untuk menggunakan jalur resmi agar proses penempatan dan pelindungan dapat dilakukan sesuai ketentuan. “Yang repot itu kalau bekerja tidak prosedural, tidak aman, tidak melalui Disnaker, tidak melalui KP2MI, tidak melalui penempatan yang prosedural. Itu yang berbahaya,” katanya.
“Selama dia bekerja secara prosedural, insyaallah aman dan bekerja secara bermartabat di negara orang,” lanjut Mukhtarudin.
Ia berharap kerja sama pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan dunia pendidikan dapat membuat penyiapan calon pekerja migran di Kalimantan Tengah lebih sesuai dengan kebutuhan pasar kerja internasional. (KP2MI)





















