Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Donggala, Muhammad, dalam laporannya menegaskan pentingnya mendirikan warung kaledo di setiap kecamatan.
“Saya berharap dengan diadakannya festival ini, Insya Allah tahun depan, setiap kecamatan harus mendirikan warung kaledo agar dikenal para wisatawan lokal maupun mancanegara,” tekannya.

Menurut para tokoh budaya Kaili, nama “kaledo” tidak berasal dari “kaki lembu Donggala” seperti yang dipercaya banyak orang. Kata ini sebenarnya berasal dari dialog sederhana:
Pada masa lalu, seorang lelaki yang terlambat mendapatkan daging kurban hanya memperoleh kaki sapi. Meski kecewa, ia menyerahkan potongan itu kepada istrinya untuk dimasak.
Saat mencicipinya, istrinya bertanya, “Naka’a?” (keras?), dan ia menjawab, “Ledo” (tidak). Dialog ini melahirkan nama makanan “kaledo,” yang artinya “tidak keras,” merujuk pada daging yang empuk setelah dimasak lama.
Donggala Kaledo Fest 2024 tidak hanya menjadi ajang promosi kuliner, tetapi juga langkah strategis untuk memperbaiki branding kaledo yang sering disalahpahami. Festival ini menjadi bukti keseriusan Pemkab Donggala dalam melestarikan dan mempromosikan warisan budaya Kaili.
Melalui berbagai kegiatan di festival ini, Donggala semakin kokoh sebagai destinasi kuliner dan pariwisata unggulan di Sulawesi Tengah.













